Showing posts with label Football. Show all posts
Showing posts with label Football. Show all posts

August 31, 2014

Sebagian orang mungkin beranggapan uang bisa membeli segalanya. Ia bisa memuaskan semua yang manusia inginkan. Namun ada beberapa hal yang tak bisa dibeli oleh uang, salah satunya ialah cinta dan kesetiaan. Ketika seseorang telah jatuh cinta pada suatu hal dan ia memutuskan untuk menjaga cintanya tersebut, ia mencoba untuk tidak tergiur oleh sesuatu yang lebih gemerlap atau yang lebih besar, demi mempertahankan sesuatu yang ia cintai. Fenomena ini pun terjadi dalam dunia sepakbola. Dalam dunia sepakbola kita mengenal beberapa pemain yang lebih memilih untuk setia kepada klub yang mereka cintai, yang mereka bela sejak kecil, dibanding harus pindah ke klub lain yang lebih besar, yang menawarkan mereka gaji yang lebih tinggi, meskipun klub yang ia cintai sedang terpuruk. Ambil contoh di sepakbola modern ini ada Paolo Maldini, Alessandro Del Piero, Francesco Totti, Javier Zanetti, Frank Lampard, John Terry, Ryan Giggs, Carles Puyol, Jamie Caragher serta Steven Gerrard. Mereka setia membela klub yang dicintai, dan enggan untuk pindah ke klub lain, atau setidaknya tidak pindah ke klub rival.

Dalam beberapa hari terakhir, media-media ternama di Inggris gencar memberitakan rumor akan hengkangnya Daniel Agger dari Liverpool. Puncaknya, semalam pihak resmi Liverpool mengumumkan bahwa seorang bek yang telah 8 tahun lebih berseragam The Reds tersebut kini telah resmi kembali ke tanah airnya, membela klub masa kecilnya. Hal ini mematahkan spekulasi selama setahun belakangan bahwa ia diisukan akan pindah ke klub raksasa Eropa lainnya. Untuk mengenangnya, berikut ini akan saya paparkan beberapa hal tentang pemain yang menyukai nomor punggung 5 ini.

Masa kecil dan Brondby
Daniel Munthe Agger adalah nama lengkapnya. Lahir dan dibesarkan di kota Hvidovre, bagian timur Denmark, 29 tahun yang lalu. Ia menghabiskan masa mudanya sebagai pesepakbola saat berumur 12 tahun di akademi Brondby IF dari tahun 1996 hingga 2004. Berkat bakat dan talentanya, pada tahun 2003 ia dipanggil untuk membela timnas U20 negaranya. Saat usianya baru beranjak 19 tahun, ia dikontrak sebagai pemain professional oleh Brondby. Debut professional pertamanya terjadi saat Brondby melawan OB Odense pada 25 Juli 2004. Ia juga terpilih sebagai pemain terbaik dalam 3 laga awal debutnya secara berturut-turut. Selama masa-masa itu ia bermain 34 kali pada pertandingan kompetitif dan menciptakan 5 gol. Termasuk rekor yang impresif untuk pemuda seusia dirinya dan berposisi sebagai bek tengah. Tak hanya itu, karirnya di timnas pun terus berlanjut hingga ia dipanggil ke Timnas U21. Mendengar ada talenta bagus dari negeri seberang, Liverpool pun kemudian tertarik untuk mendatangkannya. Mahar 6 juta pounds pun harus dikeluarkan oleh Liverpool untuk memboyongnya. Transfer tersebut menjadi pembelian termahal LFC untuk seorang bek, dan menjadikan ia pemain termahal dari Liga Denmark yang pernah dijual ke klub lain di luar negeri. Dalam wawancaranya, Rafael Benitez, pelatih LFC saat itu mengatakan: "He will be a Liverpool centre back for the next ten years." Dan kini ucapannya telah terbukti.


Karir di Liverpool
Di masa-masa awal berseragam Liverpool, ia masih berada di bawah bayang-bayang kebesaran Sami Hyppia dan Jamie Carragher yang sudah menjadi ikon lini belakang klub selama bertahun-tahun. Debutnya bersama tim utama terjadi pada 1 Februari 2006 saat Liverpool ditahan Birmingham City 1-1 di Anfield. Namun setelah itu cedera panjang menghampirinya, membuat ia hanya bermain 4 kali sepanjang Januari hingga Mei 2006. Namun, ia terus bekerja keras untuk mendapatkan tempat di tim utama. Gol pertamanya untuk Liverpool dicetak di musim 2006/2007 saat menghadapi West Ham United di Anfield. Istimewanya, ia mencetak gol tersebut dari luar kotak penalti di depan tribun The Kop yang saat itu tengah merayakan 100 tahun tribun itu berdiri. Gol tersebut juga dianugerahi sebagai Premier League Goal of The Month: August 2006. Sebuah momen yang pastinya takkan pernah bisa ia lupakan. Total 232 penampilan dan 14 gol telah ia bukukan selama berseragam The Reds di seluruh kompetisi resmi. Prestasi terbaiknya ialah saat mampu mengantarkan The Reds ke final Champions League 2007 (meski saat itu kalah 1-2 oleh AC Milan), juara Community Shield 2006, serta juara Carling Cup 2012.



The Great Dane, begitu para fans memaggilnya, telah menjadi ikon klub kota pelabuhan selama 5 tahun belakangan. Bersama Steven Gerrard dan Jamie Carragher ia menjadi simbol pemain yang loyal terhadap klubnya. Tahun 2013, ia diisukan akan hengkang ke Barcelona. Klub asal Catalan tersebut menawarinya gaji yang tinggi. Tapi transfer tersebut tak pernah terwujud. Ia lebih memilih bertahan di Anfield meski telah 5 tahun tidak bermain di level tertinggi Eropa. Selain Barca, klub-klub lain yang pernah diisukan menginginkannya ialah Napoli, Madrid, Man City, Atletico serta Arsenal. Jika ada yang menyangsikan kecintaannya kepada Liverpool, lihatlah beberapa tattoo di tubuhnya. Tattoo bertuliskan 'YNWA' di jari tangan kanannya adalah bukti shahih bahwa ia sangat mencintai klub berlambang Liverbird ini.


Musim panas 2014
Liverpool kehilangan Luis Suarez di bursa transfer musim panas tahun ini. Sang predator EPL musim lalu tersebut lebih memilih bergabung dengan klub alien, demi mewujudkan mimpinya. Ya, Suarez kecil pernah bermimpi ia ingin bermain sepakbola dengan seragam Barcelona menempel di tubuhnya. Keberhasilan Liverpool finish di peringkat 2 Liga Inggris musim lalu dan dipastikan main di Champions League musim ini tidak mampu menahan hasratnya tersebut. Brendan Rodgers tidak menyia-nyiakan uang 75 juta pounds hasil penjualan si tukang gigit itu. Sang juru taktik kemudian membeli 9 pemain yang semuanya diprioritaskan untuk menambal pos-pos yang musim lalu menjadi titik lemah tim serta untuk menambah kedalaman skuad. Salah satu pembelian sukses Brendan ialah bek paling bersinar Southampton musim lalu, Dejan Lovren. Di pertandingan debutnya, ia langsung mencetak gol melalui header saat LFC menjajal kekuatan Borussia Dortmund di friendly match. Mungkin ini yang membuat Agger memiliki keinginan untuk hengkang. Ia berfikir ia akan terus duduk di bangku cadangan sepanjang musim jika ia tidak pergi, apalagi LFC masih punya Mamadou Sakho dan Kolo Toure dalam daftar pemain yang mampu beroperasi di pos CB. Raut wajah Agger saat menghadiri pertandingan persahabatan melawan Dortmund di bawah ini menguatkan opini tersebut.


Akhirnya, setelah berkarir selama hampir 9 tahun berseragam merah, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Denmark, membela Brondby, klub yang telah mendidik dan membesarkannya sebagai pemain hebat. Sebuah keputusan yang bijak mengingat di usianya saat ini (29 tahun) masih memungkinkan dirinya untuk bermain di level tertinggi dengan klub besar lain baik di EPL, maupun di liga besar Eropa lainnya. Namun hati kecilnya berkata lain, ia hanya mencintai Liverpool dan klub masa kecilnya, Brondby. Baginya tidak ada yang lebih besar dari keduanya. Hatinya telah terpaut pada dua klub tersebut. Sebuah bentuk kesetiaan yang jarang kita lihat dalam dunia sepakbola modern dimana uang menjadi daya tarik utama. Seperti sebuah lagu milik The Beatles yang berjudul Money Can’t Buy Me Love. Uang memang bisa menggoda, tapi ia tak bisa membeli cinta.

"I think it's unacceptable to play for one of Liverpool's rivals. It is about having respect for the club you play at."
"I am proud to pull on my Liverpool shirt and will never go to another club in England."
- Daniel Agger -


Terima kasih Daniel Agger. Sukses selalu. YNWA.

_________________________________
Baca juga:
- Sejarah Panas 'North West Derby'
- Sejarah dan Keunikan 'Merseyside Derby'

November 23, 2013

Liverpool adalah rumah bagi lebih dari lima ratus ribu warganya yang terletak di pinggir Sungai Mersey yang bermuara ke Samudera Atlantik yang berada di laut lepas sejauh mata memandang. Kota ini memang tidak sebesar London ataupun Manchester yang sangat maju dengan ekonomi dan bisnisnya, tetapi dalam hal sepakbola, Liverpool adalah kota tersukses dalam sejarah hirarki sepakbola Inggris. Di kota ini, ada 2 klub besar yang pertemuan antara keduanya memiliki sejarah panjang dan keunikan tersendiri, siapakah mereka dan bagaimana kisahnya? Check this out!


Jika Anda adalah seorang penggemar Liga Inggris sejati, pasti Anda sudah tidak asing lagi dengan istilah Merseyside Derby. Merseyside Derby adalah derby yang mempertemukan antara dua klub sepakbola berbeda yang berasal dari satu kota yang sama, yaitu Liverpool. Liverpool FC dan Everton FC, itulah nama kedua klub tersebut. Julukan ‘Merseyside Derby’ sendiri muncul saat sebuah koran nasional memakai istilah tersebut di tahun 1955. Lahir dari satu rahim yang sama, yaitu Anfield, keduanya tumbuh dan besar menjadi klub elit papan atas di Liga Inggris. Everton, sang kakak, didirikan terlebih dahulu 135 tahun yang lalu dengan nama St. Domingo’s FC. St. Domingo sendiri adalah nama sebuah gereja di daerah district Everton, dan pemain dalam tim nya merupakan jemaat gereja tersebut. Setahun kemudian berganti nama menjadi Everton FC dikarenakan penduduk lokal (Everton) juga ingin berpartisipasi dalam tim. Mereka menyewa lapangan Anfield yang dimiliki oleh John Houlding sebagai home base mereka. Namun perseteruan petinggi Everton dengan John Houlding yang menaikkan harga sewa stadion kala itu membuat Everton memutuskan untuk pindah home base ke Goodison Park. John Houlding kemudian membuat sebuah klub baru pada Maret 1892 dengan nama awal “Everton FC and Athletic Grounds Ltd." Akan tetapi nama tersebut ditolak oleh FA (Federasi Sepakbola Inggris) karena tidak boleh ada 2 tim dengan nama yang sama. Maka pada bulan Juni 1892 dipilihlah nama Liverpool FC, dan nama itu tidak tergantikan hingga saat ini.

Dari situ mulai tumbuhlah api kebencian supporter Everton kepada orang-orang yang mendukung berdirinya Liverpool FC. Di awal-awal berdirinya, Liverpool sukses menjuarai beberapa kompetisi domestik, hal ini membuat fans Liverpool semakin banyak. Dan sejak saat itu pula pertemuan antar keduanya di setiap ajang menjadi panas. Meskipun ada 6 klub sepakbola professional dan amatir di daerah Merseyside, hanya 2 klub inilah yang bersaing di kasta teratas sepakbola Inggris yang membuatnya selalu menarik untuk ditonton. Siapapun diantara keduanya yang menang di Merseyside Derby seolah menjadi penguasa kota setidaknya hingga pertandingan selanjutnya. Tidak peduli saat bertanding itu mereka ada di peringkat berapa di klasemen Liga, tensi panas dan gengsi tak pernah lepas dari derby yang sering dibilang sebagai ‘derby terhangat’ di seantero Inggris Raya ini.

Brotherhood!
Neighborhood in Liverpool
Derby terhangat? Ya, karena tidak jarang ditemukan bahwa dalam sebuah keluarga di Liverpool, anggota keluarganya mungkin mendukung dua klub yang berbeda. Liverpool adalah kota kecil, sehingga perkawinan antar sesama penduduk Liverpool adalah hal yang lumrah. Maka jangan heran jika dalam sebuah keluarga di Liverpool memiliki dua atribut berbeda di rumahnya. Sang ayah bisa saja pendukung Everton, sang ibu pendukung Liverpool, dan anak-anaknya sudah pasti berbeda-beda pula. Hal ini bukanlah hal yang asing di kalangan Liverpudlian (warga kota Liverpool) sejak dahulu. Meskipun berbeda warna, sangat jarang terjadi perkelahian satu sama lain. Karena mereka percaya bahwa mereka adalah keluarga. Pada final Piala Liga di tahun 1984, kedua supporter duduk berdampingan di stadion sambil meneriakkan, ‘are you watching Manchester?’ sebagai sindiran kepada klub dari kota sebelah yaitu Manchester United dan Manchester City yang tidak pernah akur di Derby Manchester. Selain itu, jarak antara markas kedua tim yang hanya selemparan batu jauhnya menjadikan fans dua klub yang berlainan warna ini selalu berdekatan satu sama lain.

Anfield and Goodison Park
Namun hal itu sedikit berubah setelah tragedy Heysel pada bulan Mei 1985 yang menewaskan 39 pendukung Juventus pada laga final Piala Champions antara Liverpool dan Juventus di Brussels, Belgium. Karena kejadian tersebut, tim-tim Inggris dihukum tidak boleh bertanding di seluruh kompetisi Eropa hingga 5 tahun lamanya. Everton, yang di tahun itu pula menjadi kampiun Liga Inggris harus pasrah menerima keadaan tidak bisa bermain di Piala Champions di musim berikutnya karena larangan tersebut. Hal ini membuat fans The Toffees (julukan Everton) menaruh rasa kebencian kepada Liverpool. Hingga beberapa tahun setelah tragedi tersebut, baik tribun penonton maupun pemain di lapangan, sama-sama memiliki tensi yang panas saat Derby berlangsung. Hal itu mulai sedikit mereda 4 tahun kemudian setelah salah satu sejarah kelam dalam dunia sepakbola kembali terjadi, tragedi Hillsborough. Bencana tersebut menewaskan 96 supporter Liverpool saat pertandingan semifinal Piala FA melawan Nottingham Forest di kandang Sheffield Wednesday. Banyak dari keluarga korban adalah fans Liverpool dan fans Everton. Keterangan dari pihak pemerintah yang menyalahkan fans Liverpool alih-alih menyalahkan pihak kepolisian yang lalai menjalankan tugas membuat pihak keluarga mendirikan yayasan yang menampung aspirasi dari keluarga korban untuk menuntut keadilan kepada pemerintah atas tragedi tersebut. Dari situlah hubungan antara kedua fans kembali terjalin, ikatan persaudaraan mengikat mereka. Bahkan sebuah lagu yang berjudul “He Ain’t Heavy, He’s My Brother” yang dipopulerkan oleh band The Hollies menjadi lagu pengiring penghormatan Everton kepada 96 supporter Liverpool yang meninggal dalam tragedi kemanusiaan tersebut.

Hillsborough Disaster
Lain fans lain pula para pemain yang bertarung di lapangan. Jika fans dari kedua tim selalu bersahabat ketika derby berlangsung, bahkan tidak jarang terlihat kedua kubu duduk berdampingan bercampur baur merah dan biru. Maka lain halnya dengan di lapangan, tensi keras dan panas selalu terjadi di pertandingan derby antara tim kakak beradik ini. Merseyside Derby sendiri merupakan derby terpanjang di divisi teratas Liga Inggris. Kedua klub selalu berduel di tiap musim divisi tertinggi Liga Inggris sejak musim 1962-1963. Tidak ada derby lain di Inggris yang berlangsung lebih lama dari ini. Derby antara keduanya juga merupakan yang terkeras dan terkasar di Liga Inggris. Sejak era Premier League dimulai tahun 1992, pertandingan antara The Reds dan The Toffees telah menghasilkan sebanyak 20 kartu merah, yang terbanyak sepanjang sejarah Premier League. Bisa dibayangkan panas dan sengitnya derby ini.

Dan salah satu keunikan dari derby kakak beradik ini datang dari sisi pemain. Beberapa pemain hebat yang dimiliki kedua tim sejatinya adalah pendukung klub rival saat masih kecil. Leon Osman dan Leighton Baines contohnya, mereka adalah penggemar Liverpool saat masih bocah. Sedangkan Ian Rush, Steve McManaman, Michael Owen, Robbie Fowler, dan Jamie Carragher, mereka semua adalah pemain hebat dan legenda Liverpool yang masa kecilnya dihabiskan untuk mendukung Everton. Salah satu kontroversi adalah saat Jamie Carragher selalu bermain dengan kaus lengan panjang. Ini membuat banyak pihak menduga bahwa ia melakukan hal tersebut karena ia memiliki tatto berlambang Everton di lengannya. Hal ini menjadi gosip selama bertahun-tahun di kalangan fans sampai akhirnya suatu hari Jamie bermain dengan kaus berlengan pendek dan terbukti bahwa tidak ada apa-apa di sana.

The Captains
Carragher on Derby
Menilik jauh lagi ke belakang, Liverpool dan sang tetangga, Everton, menjadikan kota Liverpool sebagai kota tersukses di Inggris dalam hal sepakbola. Hingga tulisan ini diturunkan, kota Liverpool menghasilkan 27 trofi juara Liga Inggris (Liverpool 18 trofi, Everton 9 trofi), lebih banyak daripada kota Manchester (23 trofi) dan London (19 trofi). Jumlah tersebut belum ditambah dengan gelar-gelar domestik dan non domestik lainnya, dan tentunya juga dengan 5 trofi Piala Champions milik Liverpool yang menjadi rekor klub Inggris. Uniknya, gelar Liga Champions ke-5 Liverpool tersebut diraih di musim yang sama ketika Everton berhasil finish klasemen Liga Inggris di atas Liverpool untuk pertama kalinya setelah 18 tahun terakhir.

"Are you watching Manchester?"
Merseyside United
Melihat rasa persaudaraan yang begitu erat antara fans dari kedua tim, dan juga kesuksesan yang telah diraih oleh kedua tim itu sendiri, tidak heran jika Merseyside Derby sangat ditunggu-tunggu oleh Kopites dan Evertonian. Rasa emosional ketika menonton pertandingan antara saudara kandung ini menjadi sensasi tersendiri, baik bagi orang-orang asli Liverpool di Inggris sana, maupun fans kedua tim dari luar Inggris. Jika Anda ingin pergi untuk menonton dua saudara kandung ini bertarung malam nanti, jangan kaget jika saat pertandingan Anda takjub dengan fans yang bercampur baur di dalam stadion layaknya saudara, sambil berkata “what a friendly derby!” Namun di saat yang lain Anda berteriak “that was dangerous foul ref, why only yellow card?” saat pemain tim kesayangan Anda dilanggar, atau mungkin Anda akan meneriakkan “why red card, ref?” saat pemain dari tim favorit Anda diusir ke luar lapangan. Because this is Merseyside Derby, are you watching Manchester???

_________________________________

September 1, 2013

Liverpool vs United
Sembari menunggu jersey Liverpool saya kering untuk dipakai saat nobar nanti malam, saya pikir tidak ada salahnya untuk membuat tulisan ini, mengingat nanti malam ada sebuah hajatan besar bagi penggemar English Premier League. Yap, hajatan besar itu adalah North West Derby. Jika Anda masih asing dengan istilah tersebut, maka membaca tulisan di bawah ini hukumnya fardhu 'ain bagi Anda.

Sepakbola Inggris tidak akan lengkap jika tidak menyajikan pertemuan antara dua rival abadi, Liverpool FC dan Manchester United. Jika Anda menganggap bahwa El Clasico antara Real Madrid dan Barcelona berada di urutan pertama pertandingan rival terbesar di dunia, maka saya bisa meyakinkan Anda bahwa North West Derby berada di urutan yang ke-2.

Alasan kenapa pertandingan antara MU dan Liverpool disebut sebagai North West Derby atau Derbi Barat Laut dikarenakan dua kota markas kedua tim tersebut (Liverpool dan Manchester) berada di Barat Laut kepulauan Inggris. Liverpool berada di wilayah metropolitan county Merseyside, sedangkan Manchester berada di wilayah Greater Manchester. Kedua metropolitan county tersebut berada di official region (semacam provinsi) North West England. Jarak antara kedua kota terbilang dekat, dan hanya terpisah sekitar 48 km. (Masih jauhan Jakarta - Bandung :p)

North West England Map
Peta: North West England
Tidak ada yang dapat memastikan sejak kapan persaingan sengit keduanya dimulai. Namun, persaingan keduanya diduga dimulai dari persaingan antara industri kedua kota yang memuncak saat revolusi industri. Sejak awal revolusi industri di Inggris, setiap kota ingin menjadi lebih baik dari tetangganya dalam sisi ekonomi.

Liverpool sejak dahulu terkenal dengan pelabuhannya yang sibuk, mungkin yang tersibuk dan terbesar seantero Inggris Raya kala itu. Pelabuhan ini kemudian memberikan kehidupan bagi warga kota, seiring dengan kapal-kapal besar yang datang dan singgah di pelabuhan Liverpool (masih ingat film Titanic?). Sementara Manchester, yang tidak memiliki pelabuhan dan wilayah pantai, ramai diketahui sebagai pusat industri kapas dan tekstil. Hal ini menjadikannya sebagai kota yang modern, maju dan mandiri di Inggris. Mari kita ibaratkan kota Liverpool sebagai Jakarta dengan pelabuhan Tj. Priok nya, dan kota Manchester kita anggap sebagai Bandung yang terkenal dengan fashionnya. 

Namun pada tahun 1894, dimulailah pembangunan Manchester Ship Canal yang membuat kapal-kapal dapat memotong perjalanan mereka langsung ke wilayah Manchester tidak perlu melewati pelabuhan Liverpool. Kanal tersebut seperti semacam sungai buatan yang berhulu di muara Sungai Mersey yang melintasi kota hingga berujung di kota Manchester. Otomatis penduduk kota pelabuhan mulai berkurang penghasilannya, yang biasanya ia dapatkan dari jasa pengangkutan barang yang mereka dapatkan dari kapal-kapal yang berlabuh di Liverpool. Kesenjangan ekonomi antara penduduk kota Liverpool dan Manchester pun tak terelakkan. Hal ini membuat bibit-bibit kebencian mulai tumbuh diantara penduduk kedua kota dengan suburnya.

Manchester Ship Canal
Sebuah kapal melintasi Manchester Ship Canal
Manchester Ship Canal Route Map
Rute: Manchester Ship Canal
Tidak hanya dari sisi ekonomi, persaingan lainnya juga terjadi di bidang musik. Liverpool, seperti diketahui, merupakan tempat kelahiran The Beatles yang menjadi salah satu band paling berpengaruh di dunia musik. Manchester pun tidak mau kalah dan melahirkan band lokal lainnya seperti The Stone Roses, New Order, The Smiths, dan juga Oasis. Persaingan-persaingan tersebut pun akhirnya melebar hingga ke lapangan hijau.


Di sisi sepakbola, Liverpool lebih dulu merasakan sukses dalam rentang waktu 1973 sampai 1990-an, dengan memenangkan 11 gelar Liga Inggris plus 4 trofi Juara Eropa di tahun tersebut *ehm benerin kerah baju*. Namun, mulai musim 1993 sukses berbalik jadi milik Red Devils. Di bawah Sir Alex Ferguson, MU sukses meraih 12 gelar Premier League dan 2 trofi Liga Champions. Maka tidak heran jika di tahun 2013 ini hits Not Nineteen Forever dari The Courteeners menjadi lagu yang paling digemari oleh fans United di seluruh kolong langit.

Ketat dan tipisnya perbedaan dari jumlah piala yang dimenangkan hanya membuat kebencian dari kedua pihak suporter menjadi lebih panas. Pergesekan antar keduanya pun semakin terpercik setelah dua musim lalu MU berhasil menggeser Liverpool dari singgasana kerajaan pemilik gelar Liga Inggris terbanyak selama berpuluh tahun lamanya. Pasukan Old Trafford -hingga tulisan ini diturunkan- telah mengemas 20 trofi kasta tertinggi Liga Inggris, sedangkan The Reds perkasa dengan 18 trofinya yang kini telah penuh dengan debu dan karat *let me say this*.

Raihan keduanya jauh di atas klub-klub lainnya. Arsenal, yang terpaku di urutan ke-3 mengoleksi 13 trofi, serta Everton yang berhasil merengkuh 9 kali juara top flight liga Inggris, berada di urutan ke-4. Panasnya gengsi antara kedua tim ini pun ikut membuat tribun kedua suporter panas. Saling ejek bahkan perkelahian kecil kerap terjadi. Jika bagi Anda pindah agama merupakan hal yang sangat tercela bahkan haram, maka pindah dari seorang fans Liverpool menjadi fans United ataupun sebaliknya sama buruknya dengan pindah agama.

Fans Banner
5 times UCL vs 20 times EPL
Ryan Giggs Banner
Unfortunately, that's true :|
Persaingan kental antara klub dan suporter ternyata merembet sampai level para pemain. Steven Gerrard memiliki berbagai koleksi kostum dari berbagai klub di rumahnya, namun ia pernah bersumpah tidak akan pernah memajang satupun kostum Manchester United. Sedangkan di kubu MU, Wayne Rooney dikenal sangat tidak menyukai Merseyside Merah. Pasalnya, Wazza sudah dididik di klub sekota Liverpool, Everton, sejak kecil. Jadi pantas saja rasa kebencian itu sudah tertanam dalam dirinya. Dan Everton dalam hal ini memerankan karakter sebagai guru antagonis yang menghasut Wazza secara sempurna.

Steven Gerrard, ketika diwawancara oleh ESPN beberapa waktu yang lalu tentang alasan kenapa ia selalu mengacungkan 5 jari setelah mencetak gol ke gawang United, ia menjawab: "Saya hanya ingin mereka tahu bahwa Liverpool masih di atas mereka dengan menjuarai Piala Champions 5 kali, jadi mereka tidak usah sombong dengan trofi ke 20 Liga Inggris yang mereka raih. Saya tidak membenci mereka. Saya hanya membenci cara mereka dalam merayakan gelar ke 20, itu terlalu sombong dan menganggap kami remeh."

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa United kini adalah pemuncak daftar juara terbanyak Liga Inggris, mereka begitu superior pada dekade 90-an dan 2000-an, ketika diarsiteki Alex Ferguson. Bagi Alex, hasil ini adalah mimpinya sejak pertama ditugasi untuk melatih United. Tahun 1986, saat Alex Ferguson pertama kali ditunjuk sebagai pelatih MU, ia ditanya wartawan tentang misi utamanya di MU, dia menjawab, "menendang Liverpool dari hirarki sepakbola Inggris."

Gerrard vs Rooney
Keras!!
Carragher vs Gerry Neville
Panas!!
Tetapi dibalik semua kebencian dan persaingan yang ada, harus diketahui juga bahwa ada persahabatan erat diantara para manajer dan pemain. Manajer legendaris United, Sir Matt Busby, mengisi karir sepakbolanya di Liverpool, dan ia juga berteman baik dengan Bill Shankly yang menjadi tokoh yang selalu dihormati di Anfield. Sedangkan ketika Gerard Houllier harus dioperasi jantungnya tahun 2001, Alex Ferguson termasuk kelompok pertama yang menjenguknya di rumah sakit kala itu.

United kehilangan hampir semua pemain di tim yang dijuluki Busby Babes pada kecelakaan pesawat di Munich tahun 1958. Kecelakaan tersebut dikenal dengan Munich Air Disaster, dimana 23 pemain dan staff MU tewas akibat tragedi naas tersebut. Dan Liverpool pun meminjamkan beberapa pemainnya ke United karena insiden tersebut, sebagai rasa simpati dan kemanusiaan. Selain menyumbangkan 5 pemain utama ke MU, Liverpool juga menyumbangkan pemain reserves berapapun yang MU inginkan, dan Liverpool yang membayar gajinya. Bill Shankly saat itu mengatakan bahwa Sir Matt Busby sebagai manager yang hebat. Bill Shankly juga mengatakan kepada kubu United bahwa Liverpool siap membantu apa saja yang MU butuhkan saat itu. Setelah tragedi Munich tersebut, MU bisa melanjutkan kembali kompetisi Liga Inggris pada musim 1958-1959, itu semua karena jasa Liverpool. 

Dibalik semua memori, kenangan dan romantisme masa lalu antara kedua tim, selalu akan ada intrik dan persaingan beraroma gengsi setiap kali kedua kubu bentrok baik di Anfield maupun di Old Trafford. Terutama, di era sepakbola modern saat ini. Kartu kuning dan merah berharga sangat murah di derbi panas yang terkadang juga membuat panas wasit yang memimpin dan kita yang menontonnya ini. Keras, kasar, dan emosional menjadi ciri dari atmosfer pertandingan, namun tetap menarik untuk dilihat oleh mata manusia yang masih memiliki cita rasa akan keindahan sepakbola.

Liverpool vs MU in 2011
"Lepasin gue!"
Liverpool vs MU in 2012
Why red card, ref?
Pada akhirnya, semua memori dan hubungan yang terjalin oleh kedua tim akan dilupakan sementara selama 90 menit, saat kapten kedua tim keluar dari ruang ganti dan memimpin rekannya masing-masing untuk memulai kembali duel 'Badai Merah' tahunan di Liga Inggris. Well, sebagai seorang manusia yang masih dianugerahi akal sehat, kecerdasan dan hati nurani oleh Yang Maha Kuasa untuk memilih Liverpool FC sebagai klub idolanya, harus saya akui memang United lebih superior, setidaknya dalam dua musim terakhir dibanding kubu lawan. Tetapi hal itu tidak menghalangi saya untuk tetap lantang dan gagah saat menyanyikan chants We've Won It Five Times malam nanti.

*masih nunggu cucian yang belum kering*

July 31, 2013

Justice for the 96 Banner at GBK
20 Juli 2013 mungkin menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan bagi para Kopites (julukan bagi fans Liverpool FC) di Indonesia. Ya, pada hari itu, klub juara 18x Liga Inggris dan 5x Liga Champions tersebut berkunjung ke Indonesia, tepatnya ke Jakarta, dalam rangkaian Tour Asia mereka di tahun 2013 ini. Selain ke Jakarta, klub yang bermarkas di Anfield tersebut juga melanjutkan Tour nya ke Melbourne (24 Juli) dan ke Bangkok (28 Juli). Dibandingkan dengan tour kedua kota selainnya, Jakarta menjadi kota yang paling lama disinggahi oleh skuad dan staff LFC. Yup, LFC berada di Jakarta selama 5 hari sejak Rabu, 17 Juli 2013, dan bertolak ke Melbourne pada 21 Juli 2013. Salah satu hal yang menarik adalah kenyataan bahwa LFC datang tanpa promotor, melainkan dengan inisiatif sendiri untuk menghibur fans mereka di Indonesia, yang menurut beberapa sumber merupakan basis fans LFC terbesar di dunia. Ya, seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya di postingan terdahulu Menanti GBK Rasa Anfield bahwa LFC memutuskan langsung bertemu dengan PSSI untuk meyakinkan diri bahwa mereka benar-benar ingin bertanding dengan Timnas Indonesia. Alhasil, Liverpool datang ke Indonesia tanpa promotor. Semua ini atas kerjasama beberapa pihak seperti BIGREDS, Mas Andhika Suksmana, serta dari pihak Liverpool sendiri yang beberapa bulan sebelum pertandingan rutin berkunjung ke Indonesia, seperti sang LFC Ambassador, Ian Rush dan Robbie Fowler. Kisah tentang suksesnya Liverpool datang ke Indonesia bisa dibaca di sini.

LFC disambut dengan meriah sejak hari kedatangan mereka di Bandara Halim Perdana Kusuma pada 17 Juli. Kurang lebih sekitar 2.500 fans Liverpool memerahkan Halim di hari itu, untuk menyambut klub kesayangan mereka. Some of them call this as the dream comes true. Jersey Home terbaru LFC menjadi yang paling banyak digunakan oleh mereka, lengkap dengan atribut seperti syal/scarf. Beberapa dari mereka juga membawa spanduk/banner bertuliskan Welcome to Indonesia, LFC! serta tulisan lain yang isinya memberikan dukungan terhadap klub. Bahkan beberapa dari mereka ada yang membawa banner yang isinya ditujukan kepada beberapa pemain agar tetap tinggal di LFC.

Ribuan Kopites Memadati Halim PK
RedSector2 at Halim
Saya sendiri tiba di Halim pukul 12.00 WIB, padahal pesawat dijadwalkan tiba pukul 13.30 WIB. Setelah melaukan sholat dzuhur bersama karyawan bandara dan sebagian Kopites, saya menuju ke depan lobby bandara. Di sana telah berkumpul ribuan fans The Reds sambil menyanyikan yel-yel LFC seperti Fields of Anfield Road dan You'll Never Walk Alone. Sambil menunggu kedatangan pesawat, mereka bernyanyi dengan tiada henti, penuh semangat serta kecintaan kepada klub. Terlihat juga beberapa wartawan dari berbagai media meliput suasana langka ini sambil mewawancara beberapa fans Liverpool. Saya sendiri tidak lupa untuk mengabadikan momen berharga ini dengan camdig yang saya pinjam dari teman saya sehari sebelumnya.

Amazing LFC Banner at Halim
Chanting at GBK
Tidak lama kemudian, kurang lebih pukul 13.45 pesawat pun tiba. Saya tidak bisa melihat ketika pemain turun dari pesawat. Kemudian, pemain menaiki bus dan bus beriringan melewati lautan merah. Hampir semua fans LFC yang hadir mengabadikan momen ini dengan kamera masing-masing. Steven Gerrard adalah pemain yang paling favorit untuk disorot. Setelah dari bandara, para pemain kemudian menuju Hotel Mulia di Senayan.

Captain Fantastic's Smile
Di hari matchday, saya pergi ke GBK bersama rombongan Kopites Uhamka. Sambil hujan-hujanan kami tetap semangat untuk datang ke GBK. Sesampainya di sana, kami membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Seumur hidup saya, belum pernah sebelumnya mengantri seperti saat mengantri untuk masuk ke stadion pada sore hari itu. Rasanya seperti mengantri untuk mendapatkan BLT, haha.

Kop Outside GBK
Second Home
Not Ordinary Wools!
Kami duduk di sektor 8, tepatnya di belakang gawang. Meskipun saya sudah 3 kali ke GBK, namun kali ini adalah yang paling istimewa dan terasa berbeda. Belum juga pertandingan dimulai, ribuan Kopites yang hadir di stadion menyanyikan chants-chants LFC dengan semangat. Puluhan banner dipasang di seluruh sudut stadion memeriahkan suasana malam itu. Malam itu, serasa GBK berubah menjadi Anfield!

Iron Lady Banner at GBK
God says, "No One!"
JFT96 Mosaic at GBK
Selama pertandingan, tak henti-hentinya 82.143 fans LFC yang memadati stadion GBK menyanyikan chants LFC. Apalagi ketika sang Captain Fantastic, Seteven Gerrard, membawa bola, seluruh Kop Ladies berteriak sumringah. Tak lupa juga mereka memberikan dukungan terhadap Timnas, dengan meneriakkan Indonesia, Indonesia. Beberapa bendera juga terlihat dikibarkan oleh beberapa fans, baik itu bendera LFC maupun bendera Indonesia. Red flare dan smokebomb juga tak jarang dinyalakan fans menambah semarak atmosfer pertandingan di round the fields of GBK.

BIGREDS at GBK
Flare's everwhere!
So many pyros...
Meskipun hasil akhir 2-0 ntuk kemenangan LFC (goal dicetak Coutinho dan Raheem Sterling), tetapi hari itu seluruh Kopites merasa puas telah melihat tim kesayangan mereka secara langsung untuk pertama kalinya, bukan hanya di layar kaca lagi. Apalagi mereka meyaksikannya di negeri mereka sendiri, tepatnya di Round the Fields of GBK. We're Not Ordinary Wools!

This is Liverpool FC. The fans love the club and the club loves the fans.
LFC Squad at GBK
Kolo about Indonesian Reds
Come Back Next Time, LFC!
Beberapa video yang saya rekam sendiri ketika pertandingan berlangsung: "YNWA Sung at GBK" dan "Liverpool's Song at GBK." Other videos will be uploaded soon.

_____________________________________
Baca juga:
- Brief History of "You'll Never Walk Alone"
- Sejarah Panas "North West Derby"

February 12, 2012

In the last two decades, football has transformed into an industry. It becomes a new business field, not only as a sport. Many billionaires form several countries participate in investing their stocks to several clubs. They have no doubt to spend their money to buy some star players and to pay expensive fees. Their only aim is to bring the club to get titles. Because of that, many football clubs got the titles instantly. For example, in July 2003, a Russian billionaire Roman Abramovich came to Chelsea FC. Since his arrival, he had spent much of money to the club to buy some star player such as Adrian Mutu, Joe Cole, Damien Duff, William Gallas, Emmanuel Petit, Juan Sebastian Veron, and Hernan Crespo. Moreover, the club also contracted a well-known Portuguese coach Jose Mourinho in May 2004. The result was not disappointing, Chelsea FC was a winner of 2004-2005 English Premier League season. It makes many other clubs follow Chelsea, especially in Europe. They believe that an expression “money cannot buy achievement” does not take effect in football. The terms money in football nowadays is known as moneyball. In addition, moneyball also gives advantages for footballer. Many footballers nowadays become a rich and popular man. However, money also will be a dangerous thing for every weaker club. Weaker clubs cannot buy any star player. This makes them cannot compete with other stronger clubs. Thus, moneyball in a recent time gives some positive and negative effects on football.

Due to the moneyball, many weaker teams in several leagues are bankrupt. For example, in Indonesia, there is PSIS. PSIS is a football club comes from Semarang. In 2007, the signal of bankruptcy of the team appeared. At the time, the player fees are higher than the incoming funds of the club. PSIS used APBD fund as a main incoming fund of the team. The rule of the league that requires every club in ISL not used the APBD fund makes PSIS got a big problem. Until the deadline time, the club could not pass the verification, and it will not be allowed to participate in Indonesian Super League anymore. Several days later, the official of the club announced that the club was closed down. The same problems are also happened in BBVA League (Spanish League). At least 7 clubs from the BBVA League are threatened to be bankrupt. For example, Valencia CF, a mediocre club from BBVA League recently got the title of League winner in 2001-2002 and 2003-2004 seasons. It is the only one club that could break the domination of the big two of BBVA League, Real Madrid and Barcelona in the recent 1 decade. It is just because that big two are strengthened and supported by rich owner, and it was running for many years ago. Real Madrid, which is owned by Florentino Perez, and Barcelona CF, which is owned by Joan Laporta, are the most two richest football club in the world. By the money support, both of them had dominated the Spanish League for years and years. It can be seen from the list of the winner of Spanish League that shows the domination of that big two, Real Madrid for 31 times and Barcelona for 21 times. In the third place is Atletico de Madrid for 9 times titles and it is far away from Barcelona in the second place. It shows us that moneyball takes a lot of contribution of the club’s achievements.

Although moneyball makes many weaker clubs bankrupt, but it can make the academy of weaker clubs advanced. As several weaker clubs cannot buy any star player, they adjust their policy to contract the player from academy. It will save their money and also will increase their academy’s popularity. An academy player usually has a lower price, lower salary, and also the loyalty to the club. Several clubs has proved that, for example Liverpool FC. In 1997, Liverpool FC signed a professional contract for Steven Gerrard, a 17 years old young boy at that time. In 1998, he took his professional debut as a substitute player against Blackburn Rovers. He never moved to other clubs since that. Until now, Steven Gerrard has scored 144 goals in Premier league and he might be a Liverpool legend in the future because of his contribution to the team. This shows us that academy player is better in quality and loyalty. In addition, in a recent time, football academies are growing up fast in several countries. For example, a few months ago, Liverpool International Football Academy is officially established in Jakarta, Indonesia. This is the only one Liverpool soccer school that is established in Asia. Many teenagers and kids are interested in joining this soccer schools. It is not a surprise as Indonesia is the biggest base of Liverpool fans. Teenagers are interested in being a footballer because this kind of game sport has a better future and better life. This explains us that moneyball is not only gives negative effect, but also gives positive effect.

Another effect of moneyball is that it gives many advantages for footballer. as what the writer have said above, being footballer is a job that has a better future and better life. Salary that is received by star player is above of standard. Different from three decades ago, when the player’s salary is not expensive, nowadays the player’s salary is generally higher than a salary of a president of a country. For example, the most expensive player in the world, Cristiano Ronaldo, that has salary €12M. He is transferred from MU to Real Madrid with £80M in 2009. It was the most expensive transfer cost ever. Other expensive players are Lionel Messi (€10.5M) and Fernando Torres (€10M). With the expensive salary, they can buy many cars and a luxurious house. For example, Cristiano Ronaldo, he has eight luxurious cars, such as Bugatti Veyron, Rolls-Royce Phantom Drophead Coupe, Audi R8, and Bentley Continental GT. However, the luxury life they have is not easily reached. It is reached by the hard-working effort and laboriously plays football to get the achievements, not only to play to get the money. They deserve to get the achievements and also the high salary because of their skills and contribution to football. In addition, another advantages of being footballer also to become popular. For example, in Indonesia, there are Okto Maniani and Irfan Bachdim. Before the Suzuki AFF Cup 2010, Okto Maniani and Irfan Bachdim were not popular. However, after they showed their beautiful play and skills in the competition, many Indonesian people praised their play. Moreover, the handsomeness of Irfan Bachdim was hypnotizing many Indonesian girls. Many girls come to the stadium only for seeing Irfan Bachdim. After the competition, both of them starred some advertisement in television. As a result, there is no doubt if we say that being a good footballer can give the wealth and popularity.

The most massive effect is that moneyball changes football into an industry. As what the writer has said in the beginning of this essay, football has transformed into an industry in the recent two decades. In line with the development of the world, football also develops to be a modern sport. One of the effects of development of football is the increasing of broadcasting cost. In a recent time the broadcasting cost of football is increased. For example, Barclays Premier League, the most expensive league in the world, has the highest broadcasting cost because of three factors. First, it is caused by the foreign investors dominating Barclays Premier League. For instance, Chelsea with the Roman Abramovich, Manchester United with the Glazer family, Liverpool with the John W. Henry, and Manchester City with Sheikh Mansour. The massive stocks they given to the club make the broadcasting cost of every clubs expensive. Furthermore, the star players playing in the league are also the reason why the broadcasting cost is increased. More the league has many star players, more expensive the broadcasting cost. It is just because the star players make the league attractive and the watcher interested in watching football. Moreover, the increase of broadcasting cost make the advertising cost increased too. The advertising cost becomes expensive in every match that is broadcasted by the television. Those are the reasons why football becomes an industry. Therefore, nowadays football is the most expensive and interesting sport in the world.

As a new phenomenon in football, moneyball gives some negatives and positive effects. The negative effect is that moneyball makes many weaker clubs bankrupt. However, moneyball also can give positive effects. First, moneyball contribute in building football academy advancement. Second, moneyball gives some advantages for footballer. they become rich and popular. Last, moneyball takes a lot of contribution of to make football an industry. It increases the broadcasting and advertising cost. Thus, the writer can conclude that moneyball seems like a negative thing that causes negative effect, but it also gives more positive effects of making football an industry.

Go to LFC Indonesia website Go to Liverpool FC website